HI GUYS,,,,jumpa lagi di sore hari ini saya akan bercerita tentang sumatera utara, salah satunya kota Medan bung!!! tempat Opung, nangtulang dan family ku tinggal, walaupun saya tidak tinggal di Indonesia sekarang, aku cinta Indonesia,,, mau tau kan tentang kota medan?
Ok,,,,,, kita mulai dari,,,,,, mana ya? aha!!!
Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini merupakan kota terbesar di Pulau Sumatera. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba.
SEJARAH KOTA MEDAN
Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang pertama terdiri dari 12 anggota orang Eropa, dua orang bumiputra, dan seorang Tionghoa.[9]Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lip
Istana Maimun
Istana Maimun adalah salah satu dari ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun.
Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888, Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan.
Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia, namun sayang keadaanya kurang terurus sekarang. Jika kita melewati tempat ini pada sore hari, kita bahkan bisa melihat anak-anak bermain sepak bola di halaman istana ini.
Istana Maimun Medan (tiket masuk sekitar Rp 15.000 / orang – buka jam 08.00 – 17.00)

Oya guys,,,, kalau berkunjung ke Istana Maimun jangan lupa singgah ke Mesjid Raya Medan,,, dekat kok dari Istana Maimun,,, tinggal jalan kaki aja,,
Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun merupakan sebuah masjid yang terletak di Medan, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini menyatu dengan kompleks istana. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara dan barat.

Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota medan dari etnis Thionghoa yang sejaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyd turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini
Arsitektural
Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun di rancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari Prancis.
JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid masjid kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.[1]Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab.
Rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan).
NAH ini dia saya akan berbagi info tentang Tjong A Fie,,,
Perusahaannya sendiri mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan dan dia menjadi salah satu orang Tionghoa terkaya di Sumatra. Keberhasilannya tersebut membuat dia mempunyai hubungan yang dekat dengan para petinggi-petinggi Medan pada saat itu, di antaranya Sultan Deli Makmun Al Rasjid dan pejabat-pejabat kolonial Belanda. A Fie pun lalu dilantik sebagai Kapitan Tionghoa (Majoor der Chineezen), pemimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan Yong Hian yang wafat. Selain itu, sifatnya yang dermawan dan banyak melakukan kerjasama dalam pembangunan Kota Medan, menjadikannya semakin dikenal. Salah satu peninggalannya yang masih cukup terkenal hingga saat ini adalah rumahnya di kawasan Kesawan Jalan Jenderal Ahmad Yani no 105, Medan.
"Rumah ini sudah berusia 109 tahun. Proses pembangunannya sendiri mulai dari tahun 1895 hingga 1900. Jadi usianya memang sudah tua kalau bangunannya ini," terang Fahrizal, Pegawai Musium, yang juga tergabung dalam Tjong A Fie Memorial Institut, kemarin (16/7). Dengan menyatukan sentuhan artistic bangunan Tionghoa, Eropa, dan Melayu, menjadikannya salah satu ikon kota Medan. Kini rumahnya menjadi museum, yang bisa dikunjungi kapan saja oleh masyarakat Kota Medan, dan wisatawan. Museum ini, juga terbuka untuk umum, tidak hanya kelompok warga Tionghoa saja yang bisa mengunjunginya.
Museum ini buka pada setiap harinya, mulai pukul 09.00 wib hingga 17.00 wib. Dengan harga tiket masuk Rp35 ribu. "Seperti halnya bangunan lainnya, museum ini juga butuh perawatan, apalagi masih banyak perabotan yang masih original dari zaman dahulu. Dan perawatan itu, untuk menjaga keawetannya, agar masih bisa dipertahankan,
Pada bulan Juli hingga 18 Agustus, museum ini mengadakan pameran foto Tjong A Fie. Dimana foto-foto itu didapat dari KITLV, sebuah lembaga penelitian di Belanda, yang meorientasikan penelitian pada masyarakat yang ada di Asia Tenggara dan Carabian. "Karena dokumentasi lengkap adanya pada mereka,
Selain foto-foto dokumentasi perjalanan hidup dari Tjong A Fie, juga ada perjalanan sejarah dari pembangunan Kota Medan. Kediaman Tjong A Fie sendiri memiliki bangunan dua tingkat, dengan 40 ruangan, dan 25 kamar. Dengan interior mengedepankan falsafah Tionghoa, dalam menjalankan sebuah kehidupan di dunia, agar meraih kesuksesan. Dari segi bangunannya, tidak ada yang berubah, semua dipertahankan. Sama halnya dengan beberapa perabotan yang masih bisa ditemui ketika mengunjungi museum Tjong A Fie.
Ketika mengunjungi museum Tjong A Fie, beberapa pemandu akan menyambut dan siap untuk menjelaskan ruangan yang ada di kediaman Tjong A Fie secara satu persatu. Sama halnya ketika wartawan koran ini mengunjunginya. Ruangan pertama yang ditunjukkan adalah ruang yang banyak memajang foto-foto perjalanan pembangunana Kota Medan. Kemudian, menuju dapur yang masih terdapat perabotan jaman dahulu. Yang digunakan untuk menyiapkan makanan, seperti tungku, lemari, dan tempat penyimpanan air. Selain itu, dapur juga terdapat satu ruang diatas untuk menjemur makanan kering. Untuk menuju ke tempat penjemuran ini, tersedia tangga yang masih original bangunannya.
Selanjutnya, ruangan berikutnya adalah ruang makan. Terdapat satu set meja makan yang selalu digunakan oleh Tjong A Fie bersama istri dan anak-anaknya. Di ruang makan ini, terdapat foto istri ketiga Tjong A Fie Liem Kue Yap, yang merupakan istri terakhinya, yang memberikannya 7 orang anak. Dari ruang makan ada satu pintu yang bisa menghubungkan langsung pada kamar tidur Tjong A Fie.
Dikamar ini, perabotannya lebih ramai lagi, dan masih asli. Mulai dari tempat tidur yang klasik dengan tirai, lemari pakaian yang masih kokoh, meja rias, cermin, dan beberapa pernak-pernik yang digunakan Tjong A Fie. Serta ada album perjalanan karir dari Tjong A Fie, pengunjung juga dapat melihat beberapa foto Tjong A Fie yang berada di kamarnya. Kemudian ada satu ruang yang disebut ruang Altar, dimana ruangan ini hadir untuk penghormatan Tjong A Fie terhadap leluhurnya.
Di Altar terdapat batu nisan dari Tjong A Fie, orangtuanya, kakeknya, dan bunyutnya. Serta ketiga istri, dan anak-anaknya yang sudah meninggal. "Anak dari Tjong A Fie yang masih hidup tinggal satu saja
Di ruang Altar ini untuk bagian atasnya terdapat lukisan yang mengangkat sebuah falsafah cina. Disamping kiri ruang Altar, ada satu kamar yang diperuntukkan kepada anak paling sulung Tjong A Fie, yaitu Queeny Chang. Dan kini digunakan untuk tempat meletakkan beberapa foto dokumentasi dari Tjong A Fie. ada lagi beberapa ruang pada bangunan bagian bawah ini. Dilantai satu juga terdapat satu ruangan khusus, untuk menjamu Sultan Deli pada masa itu, yang di sebut Melayu Room. Karena Tjong A Fie juga berteman akrab dengan Sultan Deli.
kipas angin, atau AC, jadi ruangan didesain dengan jendela yang besar dalam jumlah yang banyak. Dilantai dua ini, ada ruangan dimana sering digunakan untuk menjamu tamu-tamu Eropa. Karena desaignnya yang disengaja luas, untuk melakukan dansa bersama pada masa itu. Satu ruangan lagi adalah Kuil Dewa Kwan Te Kong, yang sering digunakan untuk bersembahyang keluarga besar Tjong A Fie. Selain itu juga sering digunakan dalam sebuah pertemuan bisnis, karena terdapat satu set meja pertemuan.
Gedung London Sumatera
Gedung London Sumatera yang berada di Kota Medan telah dibangun sejak tahun 1906 yang berfungsi sebagai kantor perusahaan perkebunan milik Harrisons & Crossfield Plc, perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berpusat di London. Desain arsitekturnya menampakkan gaya transisi yang mirip dengan rumah-rumah di London.
Gedung London Sumatera terletak di Kota Medan, Sumatera Utara. Tepatnya berada dalam wilayah administratif Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat.
Kantor Pos Medan
Kantor Pos Besar yang terletak di sisi utara lapangan Merdeka Medan kini tampak masih berdiri kokoh di usianya yang hampir mencapai 100 tahun.
Bangunan yang berdiri tahun 1911 ini relatif lebih terawat ketimbang bangunan tua yang masih berdiri di Medan. Ada banyak bangunan tua bersejarah di Medan terancam ambruk karena diterlantarkan begitu saja.Gedung kantor pos besar Medan yang usia nya hampir 100 tahun tersebut merupakan salah satu ikon kota Medan.
Dikatakannya, disamping gedung Kantor Pos Besar Medan, dulunya ada sebuah bangunan yang di sebut balai prajurit, merupakan sebuah tempat pertemuan.
Menurutnya Kantor Pos Besar Medan tersebut memiliki ciri khas seperti bangunan peninggalan Belanda umumnya.
“Seperti bangunan kantor pos besar Medan, bangunan tua bersejarah lainnya yang ada di Medan hendaknya juga tetap dirawat dan dipertahankan sebagai aset sejarah.
Gedung Balai Kota Medan
Gedung Balai Kota Medan sudah berdiri sejak 1906 dan hingga kini bangunan ini masih terlihat kokoh. Bangunan yang terletak di pusat Kota Medan ini pernah mengalami perbaikan pada tahun 1923. Usianya yang lama membuat bangunan ini menjadi salah satu tempat wisata sejarah di Kota Medan.
Desain klasik dan memiliki fungsi yang sangat penting pada masa lalu membuat bangunan ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Tempat ini sempat lama menjadi kantor walikota. Sedikitnya 12 walikota pernah berkantor disana, terhitung walikota yang pertama tahun 1945 Mr.Luat Siregar sampai yang terakhir berkantor disana adalah tahun 1990 H.Agus Salim Rangkuty.
Keaslian bangunan hingga kini masih tetap dipertahankan. Meski bukan menjadi Gedung Balai Kota seperti dahulu, tapi kini tempat ini lebih terawat. Sejak tahun 2005 bangunan ini dikelola oleh Grand Aston Hotel.
Hotel ini berada di lokasi paling strategis, yaitu di titik nol kilometer Kota Medan. Hotel ini memiliki konsep yang sama sekali berbeda dengan hotel lainnya. Hotel satu-satunya yang terintegrasi dengan heritage (warisan sejarah).
Kemudian, Merdeka Walk sebagai pusat jajan yang persis berada di depannya secara tidak langsung bisa dikatakan menjadi daya tarik tersendiri bagi hotel ini. Coba sesekali duduk malam hari di Merdeka Walk sambil memandang hotel ini, seakan terasa berada di suatu tempat paling mewah.
Titi Gantung (sebuah jembatan di atas rel kereta api)
Bangunan bersejarah yang bernama Titi Gantung di Kota Medan yang sekarang sudah menjadi sebuah obyek wisata yang kerap dikunjungi oleh para wisatawan. Obyek wisata Titi Gantung ini sendiri adalah sebuah jembatan di atas sebuah rel kereta api yang dulunya dibangun untuk memfasilitasi para pejalan kaki yang ingin menyebrang untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti menaiki kereta api dan menonton berbagai macam acara yang kerap diadakan di Lapangan Merdeka. sebut saja jalan alternatif warga menuju Stasiun Kereta Api dan Lapangan Merdeka Medan.
Itulah sebabnya mengapa Titi Gantung ini memiliki lokasi yang berdekatan dengan stasiun kereta api dan Lapangan Merdeka.
Selain memiliki arsitektur yang unik, obyek wisata Titi Gantung ini juga memiliki berbagai macam fungsi. Salah satu dari fungsi Titi Gantung ini adalah untuk menghubungkan Jalan Veteran dengan Jalan Pulau Pinang melalui dua pintu gerbang yang berada di bawahnya.
Namun, nampaknya pintu gerbang ini hanya terbuka pada saat malam hari saja dimana sudah tidak ada lagi kereta api atau lokomotif yang beroperasi. Selain itu, obyek wisata Titi Gantung ini juga memiliki konstruksi bangunan yang kokoh.
Hal ini dibuktikan oleh temboknya yang kokoh, kelebarannya yang terbuat dari besi yang kokoh, dan juga lantainya yang beraspal. Membuktikan bahwa, arsitektur yang unik tersebut bukan hanya untuk penampilan saja
Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan)
Menara air yang bernama Tirtanadi ini pada jamannya menjadi bangunan penanda kota Medan. Inilah ikon kota Medan yang sebenarnya. Dia dulu memang tidak cuma sebagai landmark, tetapi juga sangat berguna untuk mengalirkan air bersih ke seluruh pelosok kota Medan. Pertumbuhan kota yang semakin membutuhkan pasokan air lebih banyak tentu tidak bisa lagi dilayani menara air yang masih berdiri megah di kota Medan ini. Sekarang menara air ini sudah bukan landmark kota lagi karena mulai terhimpit bangunan tanpa cita rasa dan tanpa tertata di sekelilingnya. Tak lupa kemacetan parah disekitarnya.:).....
.
.
Menara ini merupakan peninggalan sejarah pemerintahan kolonial Belanda dengan Nomor Bangunan No. 3D-036 dan tahun penyelesaian 1908. Klo gak salah dibangun mulai tahun 1896 mendahului perusahaan-nya yang dibentuk kemudian. Nama resminya adalah Menara Air di jalan Pandu, kalo dulu cukup dengan Menara Air saja. Namun lebih dikenal sebagai Menara Air Tirtanadi. Alamat resmi Menara Air ini di JL.Sisingamangaraja No.1. Lokasinya pas di persimpangan jalan Sisingamangaraja, Jl. Pandu, Jl. Cirebon, dan Jl. Hj. Ani Idrus.
.
.
Menara Air ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi yang didirikan pada tanggal 23 September 1905 dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berkantor pusat di Amsterdam negeri Belanda. Sepertinya akrab tuh dengan istilah 'Leiding', 'Ajer Beresih', hehehe. Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Sumatera Utara No.11 tahun 1979 perusahaan ini resmi menggunakan nama yang sekarang (Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi) disingkat PDAM Tirtanadi yang berlokasi di Jl.Sisingamangaraja No.1 Medan.
.
Menara Air ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi yang didirikan pada tanggal 23 September 1905 dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berkantor pusat di Amsterdam negeri Belanda. Sepertinya akrab tuh dengan istilah 'Leiding', 'Ajer Beresih', hehehe. Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Sumatera Utara No.11 tahun 1979 perusahaan ini resmi menggunakan nama yang sekarang (Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi) disingkat PDAM Tirtanadi yang berlokasi di Jl.Sisingamangaraja No.1 Medan.
.
.
Menara air ini dekat sekali dengan Hotel 'Novotel' Soechi International Medan di Jl. Cirebon 67A, Medan. Cukup jalan kaki dari hotel ke menara air ini. Bahkan dari depan hotel kita sudah dapat melihat menara air ini.












No comments:
Post a Comment